Hujan Turun

Posted: April 1, 2011 in Kiddnote, Poem

Meski membenci situasi ini, namun aku tetap menantikannya. Bak awan merindu hujan yang menjadikannya tiada, dan ini memang menjadikan kita tiada. Ya, dan aku akan mengalir lagi, menari bebas bak hujan. Bukan, bukan kau mencengkeramku pada fase awan tadi. Aku memang menginginkannya, yah setiap air pasti menginginkan untuk menjadi awan, supaya ia tahu ada apa di langit sana. Terutama menit-menit kala evaporasi mengangkat kita kesana dan keinginanmu juga begitu, dulu.

Aku memberimu pilihan, kau mengambilnya tanpa batas waktu. Pagi tadi, kau dengan sopan mengembalikan kartuku, mengambil kartu yang lain. Kartu yang kita mainkan dulu, semasa masih sama menjadi air. Ah tidak, semasa itu kau masih menjadi awan bimbang sedang aku menikmati menggenang di kerak bumi.

Waktu, ya waktu. Bukan ideal atau sebuah konsep akan ikatan. Bagian terpenting adalah kita sudah merasakannya, bersama mengapung, menggumpal melaju lambat di garis angkasa. Bukan masalah singkatnya waktu. Hidup masih panjang, sepanjang trek vertikal menuju bumi.

Bumi, aku kembali.
Yogyakarta, 29 Maret 2011
OST Berlayar(full album)- SO7

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s