Kadang kala aku hanya bungkam kala seisi alam berteriak, bahkan meneriakiku_
Menyodorkan setumpuk tanya yang tak terdefinisi, tak tercetak di bibliotik_
Sudahlah menyanyi saja sekenanya, lagian otakku mulai kacau, bila kulanjutkan akan semakin kacau galau_
Selamat pagi, jangan lupa hirup aroma bibirmu_
Meski membenci situasi ini, namun aku tetap menantikannya. Bak awan merindu hujan yang menjadikannya tiada, dan ini memang menjadikan kita tiada. Ya, dan aku akan mengalir lagi, menari bebas bak hujan. Bukan, bukan kau mencengkeramku pada fase awan tadi. Aku memang menginginkannya, yah setiap air pasti menginginkan untuk menjadi awan, supaya ia tahu ada apa di langit sana. Terutama menit-menit kala evaporasi mengangkat kita kesana dan keinginanmu juga begitu, dulu.
Aku memberimu pilihan, kau mengambilnya tanpa batas waktu. Pagi tadi, kau dengan sopan mengembalikan kartuku, mengambil kartu yang lain. Kartu yang kita mainkan dulu, semasa masih sama menjadi air. Ah tidak, semasa itu kau masih menjadi awan bimbang sedang aku menikmati menggenang di kerak bumi.
Waktu, ya waktu. Bukan ideal atau sebuah konsep akan ikatan. Bagian terpenting adalah kita sudah merasakannya, bersama mengapung, menggumpal melaju lambat di garis angkasa. Bukan masalah singkatnya waktu. Hidup masih panjang, sepanjang trek vertikal menuju bumi.
Bumi, aku kembali.
Yogyakarta, 29 Maret 2011
OST Berlayar(full album)- SO7
Angin membimbingku ke sini. Di bawah pohon rindang entah apa nama ilmiahnya, yah tepat di depan Grha Saba Pramana. Angin siang berhamburan kesana kemari. Entah apa yang mereka cari, yang jelas bukan mencariku.
Sayangnya suasana menjadi keruh, memucat panas, apalagi? Kendaraan bermotor berlalu-lalang tiada henti. Hampir seratusan kendaraan yang lewat tiap menitnya tepat di belakang tempatku duduk ini. Aku memang mengagumi kendaraan-kendaraan bermotor itu, sebuah inovasi terbesar manusia akan transportasi, sebagai solusi bagi jarak dan waktu, serta solusi kemalasan pula. Dalam batin aku setuju akan kebijakan KIK, ya, demi membatasi volume kendaraan bermotor yang masuk ke kampus ini. Yang tak hanya menyumbang polusi pekat, namun juga kebisingan serta resiko tinggi kecelakaan, belum lagi kriminalitas. Ya memang, kebijakan tersebut bertentangan dengan asas dan slogan kampus yang berjuluk Kampus Kerakyatan. Namun perilaku masyarakat serta civitas akademis yang konsumtif mengakibatkan membludaknya kendaraan bermotor di kampus ini. Lagian dengan adanya KIK bukan berarti membatasi masyarakat sekitar yang ingin memasuki area kampus, kebijakan ini hanya membatasi kendaraan yang masuk ke area kampus, supaya lebih kondusif.
Ah, sudahlah tak usah dipikir. Pandanganku kembali mengais sisa-sisa pendaran mentari jauh di depan sana. Tampak barisan rerumputan mulai bangkit dari mati surinya, sepertinya bekas jejak kaki anak manusia memaksanya rubuh. Yah, mungkin saja tadi parade mahasiswa yang melewati barisan rumput itu. Oh ya, kalau tidak salah para mahasiswa tadi berunjuk rasa, eh bukan katanya sih aksi penolakan KIK. Ah sudahlah apapun namanya. Ya ya ya, tampaknya bahasan siang ini kembali ke sosok KIK lagi. Seberapa buruknyakah ia, hingga banyak dari kalangan mahasiswa berseru untuk mengenyahkannya. Yah, memang sih dalam pelaksanaan kebijakan tersebut terdapat hal2 yang ganjil serta tidak sesuai, malah dirasa merugikan banyak pihak dan hanya sekelompok kecil pihak yang diuntungkan dari penerapan KIK. Bahkan sampai-sampai papan besar mereka pampangkan, yang berisi sederet alasan kenapa KIK harus tiada dan kenyataannya memang benar apa yang mereka tuliskan itu. Namun apakah hanya dengan kesalahan sistem pelaksanaan itu KIK harus dienyahkan. Adakah solusi supaya ia tak mubazir. Entahlah, mereka saja memubazirkan tenaga mereka untuk sekedar berkoar akan kebebasan dan penolakan. Bukankah masih ada cara yang solutif? Tawarkan perjanjian atau MoU sekalian. Yang mengharuskan pihak yang berwenang atas pelaksanaan disinsentif KIK untuk melaporkan pendapatannya tiap bulan serta mempergunakannya untuk meningkatkan fasilitas keamanan tempat parkir. Pihak Rektorat juga sudah menyampaikan bahwa pendapatan dari pemberlakuan disinsentif itu untuk kepentingan kampus. Terutamanya pembangunan yang lebih fokus untuk fasilitas pejalan kaki dan pengendara sepeda.
Yah, itu menurutku. Pandanganku sendiri dari prespeksiku. Prespeksi yang lahir atas pertimbangan kenyamanan.
.
@Boulevard UGM – 1.53 pm waktu setempat.
*KIK = Kartu Identitas Kendaraan, pemegang/pemilik kartu ini berhak keluar masuk wilayah kampus UGM bebas biasa. Dengan ketentuan tiap satu pemilik kartu hanya boleh mendaftarkan maksimal 2 kendaraan bermotornya saja. Dan KIK bersifat khusus untuk mahasiswa, staf, dosen, serta para warga UGM lainnya saja.
Teriakan itu kembali menyeruak di tepi malam ini_
Membuat kami bergidik ngeri_
Teriakan yang menyingkirkan kami dari nafas kehidupan, menggusur ketenangan makhluk malam_
Suara sesumbar bernada dan berirama tajam_
Menggema rendah namun terasa begitu memekak_
Mengoyak gendang telinga_
Memaksa mata kembali terjaga_
Begitu pelan begitu menyakitkan_
Rembulan masih tersenyum di teras sana_
Bukankah itu lebih baik_?
Ya kan penyair_?
Titik ini membangun kembali ingatan akan masa dulu
yang penuh tawa semangat dan canda kegilaan remaja
Menguak kembali dari sudut yang sama
serasa baru kemarin putih dan abu2 menjadi identitas sehari-hari
dan kalian masih berada di dalam bilik pengajaran bernama sekolah
Prespeksi ini kembali menayangkan ulang rangkaian scene kehidupan masa kemarin yang penuh coretan tinta hitam spidol dan beberapa kuas cat
begitu pula dengan lantunan bel yang dimainkan dengan nada yang sama tiap 45 menit, menit-menit yang amat dinanti untuk secercah kebebasan akan tekanan ilmu pasti dan sosio
Namun, tak ada waktu manapun di dunia ini yang memperkenankan kita untuk melangkah mundur ke waktu lampau
oleh karena itu Tuhan memberikan kita seperangkat ingatan
yang akan selalu merekam kisah klasik dari putih dan abu-abu
soundtrack :
Kita Selamanya – Bondan Prakoso
Kita – SO7
Kisah Klasik Untuk Masa Depan – SO7
SUSIS – Entis Sutisna
Hujan mengurungku disini_
Terkunci di sudut mati_
Kali ini aku hanya pasrah menanti_
Hujan, sebelum kau pergi, tolong dengar pesanku ini_
Bila nanti kau mampir lagi_
Tolong bawakan padaku seikat puisi_
Lantunkan melalui tetabuhanmu pada daun dan tanah_
Aku ingin mendengarnya sekali lagi_
Puisi yang pernah kau bacakan padaku di masa kecil_
Puisi retoris tentang langit yang permai_
Yang tentram tanpa konspirasi_
Yang nyaman walau anarki_
Yang sejuk walau penuh turbulensi_
Hujan, perdengarkan padaku sekali lagi_
Sunting
Pagi
oleh Muhammad Muhaimin Marta pada 02 November 2010 jam 6:28
Pagi kembali datang_
fajar tersenyum sinis dari ufuk timur sana_
dan aku kembali menarik dalam-dalam selimut lurik ku_
aku ingin kembali ke sana, ke mimpi yang bebas_
dimana kau bisa menjadi sesukamu_
bahkan Dewa sekalipun_
dan terutama bisa dengan leluasa memandangi wajah manis bidadari kecilku_
namun udara pagi mengetuk pintu kamarku dengan keras_
menggedor tanpa alasan, tanpa tegur sapa_
tapi kenapa hanya kamarku, kulihat kamar-kamar lain belum ada denyut aktifitas pagi_
Ah, masa bodoh aku mau tidur lagi_
tak surut langkah sang pagi, kembali ia mengetuk pintu kamarku_
kali ini ia mengajak sinar mentari pagi_
lebih kasar dibanding tadi_
ia bahkan sampai memaksa masuk lewat ventilasi dan celah jendela_
dan aku tetap tak mau kalah_
kunyalakan lampu kamarku_
sirnalah ia_
sudah ku bulatkan tekadku_
aku mau tidur_
Sadarkah kau Luna Kelam_
Apa yang t’lah kau sengatkan_
Pada jiwa bintang malam_
Kini mereka takkan mampu bersyair sebelum melihat kau bercahaya_
Dengar ini Luna Kelam_
Jiwaku di genggamanmu_
Bawa saja pergi kemana kau suka_
Ku tak lagi membutuhkannya jika kau tak lagi ada di sini_
Sejak engkau menyapaku hatimu menjadi incaranku_
Hanya engkau yang memiliki tatapan yang meluluhkan dunia_
Langit terbatuk pelan_
Cukup pelan hingga mampu membangunkan lamunanku_
Tersadar bahwa mataku hanya berjarak 60 centimeter dari layar kristal berpendar yang semakin lama semakin menggerus jarak pandangku dan pencitraanku tentang malam_
Kini pandanganku terantuk pada white board di dinding sebelah utara kamarku_
Terpampang “tomorrow, eyes check up”_
Dan besok, aku tak akan peduli, walau langit mengeluarkan dahaknya atau angin menari-nari tanpa toleransi sekalipun tak ada kata nanti untuk memeriksakan mataku ini, sudah tertunda seminggu janji pertemuanku dengan dokter mata GMC dan kali ini harus berhasil_
Mataku kian memburuk, hal yang kubanggakan mulai pupus_
Kembali melamun, seraya melantunkan Luna Kelam_
Derap hujan terlantun parau malam ini_
Disusul rintih angin yang enggan melaju_
Sesorak dedaunan juga tak lagi riuh_
Malam yang cukup beku, bahkan untuk perutku yang baru saja kusumpal dengan segelas kopi dingin_
Ikut membeku_
Begitu pula dengan deretan angka dan simbol di kertas itu_
Yang baru kujamah 15 menit yang lalu_
Mereka ikut tersenyum beku, dan mengejek_
Menatap sayu meremehkan_
Dulu, dalam 3 menit kulumat kalian_
Kini, butuh 30 menit untuk menjinakkanmu_
Karena segalanya tlah beku_
Oleh waktu dan ujaran teknologi_
Yang terlampau manis rayuannya_
Hingga kami membeku patuh_
Malam ini, beku_
Yogyakarta, 7 Oktober 2010
@11.58 WIB_